MASUK DAN
BERKEMBANGNYA KEKUASAAN BANGSA-BANGSA EROPA DI INDONESIA
A. MASUK DAN
BERKEMBANGNYA KEKUASAAN BANGSA PORTUGIS DI INDONESIA
MASUKNYA :
Alfonso de
Albuquerque, menyerang Malaka dan berhasil menguasainya pada tahun 1511, dimana
Malaka saat itu diperkirakan memiliki banyak kekayaan berupa rempah-rempah.
Di bawah pimpinan
Francisco Serro sampai di Maluku pada tahun 1512 tepatnya di ternate setelah
sebelumnya singgah terlebih dahulu di Gresik dan Banda.
Portugis mampu
menguasai Maluku dikarenakan jasanya membantu Ternate mengalahkan Tidore.
PERKEMBANGANNYA ;
Untuk membantu
Ternate tersebut Portugis diizinkan untuk mendirikan benteng pertahanan (1522)
yang awalnya digunkan untuk menahan serangan Tidore tetapi selanjutnya dikuasai
oleh Portugis.
Selain itu Portugis
berhasil mendapatkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku (Ternate)
sebagai upah usahanya mengalahkan Tidore. Karena monopoli tersebut maka
perdagangan rempah-rempah di Ternate hanya boleh dilakukan oleh Portugis.
Setelah mengetahui
betapa merugikannya monopoli perdagangan yang dilakukan Portugis tersebut maka
Ternate mulai menolak kedatangan Portugis yang selanjutnya.
Puncak penolakannya
yaitu dengan terbunuhnya raja Hairun (Raja Ternate) oleh Portugis yang
menyebabkan Portugis diusir dari Maluku pada 1575.
Selain itu Portugis
selama di Maluku berusaha menyebarkan agama Kristen sementara itu penduduk
Ternate saat itu beragama Islam. Perilaku Portugis selama berada di Maluku pun
dinilai tidak sopan.
Portugis akhirnya
berusaha mencari daerah lain yaitu di Sumatera dan di Jawa meskipun di Sumatera
dia berusaha menguasai cengkeh dan lada tetapi kurang berhasil sebab Aceh
sangat kuat dalam perdaganagn lada.
Portugis di Indonesia dari tahun 1511 sampai
1641.
B.
MASUK DAN BERKEMBANGNYA
KEKUASAAN BANGSA BELANDA MASA VOC DI INDONESIA
MASUKNYA :
Cornelis de
Houtman memimpin pelayaran dari Belanda tahun 1595 dan tiba di Banten Juni
1596. Dari Banten pelayaran dilanjutkan ke Maluku dan berhasil mendapatkan
keuntungan sebesar-besarnya disana.
BERKEMBANGNYA
VOC:
VOC dibentuk
pada Maret 1602 karena adanya persaingan dagang antara sesama kongsi dagang
Belanda. Tujuan dibentuk VOC untuk mengatasi persaingan antara para pedagang
Belanda. Hal ini disebabakan harga rempah-rempah di Eropa semakin tidak
terkendali. VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) merupakan Perserikatan
Maskapai Hindia Timur.
VOC mempunyai
hak-hak istimewa yang diberikan oleh Parlemen Belanda disebut hak Oktrooi.
Disamping hak
istimewa, VOC juga mempunyai kewajiban khusus terhadap pemerintah Belanda.
VOC wajib
melaporkan hasil keuntungan dagangnya kepada Parlemen Belanda.
VOC juga wajib
membantu pemerintah Belanda dalam menghadapi berbagai perangan.
Heeren XVII
mengangkat Gubernur Jenderal VOC, dengan tugasnya menangani urusan-urusan VOC
di Hindia Belanda. Dibentuk pula Dewan Hindia untuk memberi nasihat dan
mengawasi tindakan Gubernur Jenderal.
Pusat kegiatan
perdagangan VOC ada di Ambon.
Jan Pieterzoon
Coen membantu Pangeran Jayakarta dalam serangan terhadap Kerajaan Banten dan
kerajan Banten berhasil dikalahkan. Jan Pieterzoon Coen kemudian membangun
kembali kota Jayakarta dan memberinya nama Batavia. Batavia dijadikan sebagai
pusat perdagangan dan kekuasaan Belanda di Indonesia. Sejak saat itu Batavia
resmi menjadi markas besar VOC di Indonesia.
Pada akhir abad
ke-18, VOC mengalami kemunduran disebabkan :
1.
Gencarnya
persainagn dari bangsa Perancis dan Inggris.
2.
Korupsi dan
pencurian yang dilakukan para pegawai VOC.
3.
Maraknya
perdagangan gelap di jalur monopoli VOC.
4.
Besarnya aggaran
belanja VOC tidak sebanding dengan pemasukkannya.
Akhirnya VOC
dibubarkan pada tahun 1799 dengan segala tanggungjawab VOC diambil alih oleh
kerajaan Belanda dengan tujuan agar wilayah Indonesia tetap dalam pengendalian
Belanda.
C.
MASUK DAN
BERKEMBANGNYA KEKUASAAN BANGSA BELANDA MASA DAENDELS DI INDONESIA
MASUKNYA :
Cornelis de
Houtman memimpin pelayaran dari Belanda tahun 1595 dan tiba di Banten Juni
1596. Dari Banten pelayaran dilanjutkan ke Maluku dan berhasil mendapatkan
keuntungan sebesar-besarnya disana.
PERKEMBANGAN
MASA DAENDELS:
Setelah VOC
bubar dan diambil alih oleh Belanda, maka Raja Louis Napoleon Bonaparte
menunjuk Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia.
Herman Willem Daendels
berkuasa dari tahun 1808 sampai 1811. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan
Daendels:
1.
Bidang
Pertahanaan, ia bertugas mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris yang
saat itu sedang berperang melawan Perancis.
2.
Membangun
angkatan perang yang terdiri dari orang-orang Indonesia.
3.
Membangun
benteng-benteng militer, pabrik senjata, dan rumah sakit militer.
4.
Membangun jalan
utama yang yang menghubungkan kota-kota sepanjang pantai utara Jawa. Jalan
tersebut membentang dari Anyer di Jawa Barat hingga Panarukan di Jawa Timur.
5.
Pembangunan
Pelabuhan di Banten, Merak, dan Surabaya, serta membuat perahu-perahu untuk
keperluan pemerintahannya.
6.
Daendels
berusaha untuk menanamkan kekuasaannya di kerajaan-kerajaan lokal di Indonesia,
dan berusaha untuk mengubah tata cara lama dalam tradisi kerajaan-kerajaan
Indonesia.
7.
Menjual tanah
rakyat kepada pengusaha swasta asing dari Belanda, Arab, dan Cina.
Pelaksanaan
kebijakan tersebut dilakukan dengan sistem kerja paksa yang disebut Kerja Rodi.
Rakyat harus bekerja keras membangun saran umum tersebut tanpa mendapat upah.
Ribuan rakyat meninggal saat mengerjakan pembuatan jalan raya tersebut.
Tindakan
Daendels tersebut menimbulkan konflik dengan para penguasa lokal Indonesia.
Tindakan otoriter Daendels tersebut membuat Raja Louis Napoleon Bonaparte
memanggil kembali Daendels ke Belanda dan diganti oleh GubernurJenderal
Jansens.
D.
MASUK DAN
BERKEMBANGNYA KEKUASAAN BANGSA BELANDA MASA HINDIA BELANDA DI INDONESIA
MASUKNYA :
Cornelis de
Houtman memimpin pelayaran dari Belanda tahun 1595 dan tiba di Banten Juni
1596. Dari Banten pelayaran dilanjutkan ke Maluku dan berhasil mendapatkan
keuntungan sebesar-besarnya disana.
PERKEMBANGAN MASA
DAENDELS:
Belanda menguasai
kembali Indonesia setelah berhasil mengalahkan Inggris dengan adanya Konvensi
London tahun 1814. Pemerintahan kolonial Belanda dipegang oleh:
a.
Komisaris Jendral (1816-1819) yang
terdiri Elout, Buyskes, dan Van der Capellen.
b.
Van der Capellen (1819-1826)
Dalam masa
pemerintahannya dia berusaha mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal
tersebut bertujuan untuk membayar hutang Belanda yang cukup besar selama
perang.
Kebijakannya :
menyewakan tanah kepada pengusaha-pengusaha Eropa.
c.
Du Bus De
Gisignnes (1826-1830)
d.
Van den Bosh (1830-1870)
Mengambil
kebijakan Tanam Paksa (Cultuur Stelsel). Sistem dimana setiap petani di
Jawa wajib menanam tanaman perdagangan ekspor yang laku dipasaran Eropa/dunia.
Oleh karena itu, rakyat dikenakan pajak in natura.
Ketentuan pokok
sistem tanam paksa:
1.
Persetujuan
menyerahkan sebagian tanah yaitu seperlima dari tanah pertanian milik penduduk.
2.
Waktu untuk
bekerja tanam paksa tidak melebihi ewaktu untuk pekerjaan menanam padi.
3.
Bebas pajak tanah
4.
Kelebihan atau
keuntungan diarahkan atau diberikan kepada rakyat
5.
Jika terjadi
kegagalan panen menjadi tanggung jawab pemerintah.
6.
Kerja paksa
dilakukan dibawah pengawasan kepala desa
7.
Bagi rakyat yang
tidak punya tanah, wajib bekerja 66 hari.
Pada
pelaksanaannya ternyata tidak seindah ketentuan tersebut, pada pelaksanaannya
selalu sangat membebankan rakyat. Tetapi rakyat Jawa terlalu patuh terhadap
kebijakan tersebut sehingga tidak ada perlawanan dari rakyat.
Jenis tanam paksa
: Gula, Nila (indigo), teh, tembakau, kayu manis, kapas, kopi.
Tanaman Musiman:
Gula, Nila, Tembakau.
Tanaman Tahuanan :
Lada, Kopi, Karet, Teh, Kelapa Sawit.
Rakyat Indonesia
wajib menanam tanaman-tanaman tersebut dimana selanjutnya hasilnya diserahkan
pada Belanda. Pemerintah Belanda mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari
sistem tanam paksa tersebut sehingga hutang-hutang Belanda dapat dilunasi
bahkan semua masalah keungan Belanda dapat diatasi.
Tanam Paksa
dihapuskan karena :
a.
Beban rakyat yang
semakin besar sebab rakyat selain dibebankan kewajiban menanam tanaman ekspor,
rakyat masih harus bekerja rodi untuk pemerintah membangun sarana-prasarana
umum, selain itu rakyat juga dibebankan kewajiban membayar pajak.
b.
Timbulnya bahaya
kelaparan, disebabakan karena daya tahan rakyat dalam menghadapi bencana
terlalu kecil sehingga ketika musim kemarau tiba mereka tidak mampu
mengatasinya. Bencana kelaparan tersebut menyebabkan berkurangnya jumlah
penduduk di Pulau Jawa. Contoh
Di demak penduduknya
berkurang dari 336.000 jiwa menjadi 120.000 jiwa.
Di Grobogan,
penduduknya berkurang dari 89.500 jiwa menjadi 9.000 jiwa.
c.
Bencana tersebut
sebagai titik balik atau merupakan batas kemampuan eksploitasi para petani di
Jawa dengan diterapkannya sistem tanam paksa.
d.
Keadaan sebenarnya
di Jawa tersebut diketahui oleh orang-orang Belanda di negara Belanda sehingga
mereka melakukan penentangan seperti Vitalis, Baron van Hoevell, Multatuli
(Douwes Dekker), Frans van de Pute.
Usaha penghapusan
tanam paksa sudah dilakukan sejak tahun 1860 dengan penghapusan tanaman lada
sampai 1870 secara resmi tanam paksa dihapuskan di Indonesia namun tanam paksa
kopi baru dapat dihapuskan setelah 1917 dan tanam paksa benar-benar terhapus di
Indonesia pada 1920.
E.
MASUK DAN
BERKEMBANGNYA KEKUASAAN BANGSA INGGRIS DI INDONESIA
MASUKNYA:
Sir James Lancaster merupakan orang pertama yang
memimpin armada pelayaran Inggris dan tiba di Aceh pada 1602 dan langsung
melanjutkan pelayaran ke Banten.
Selanjutnya Sir Henry Middleton pada tahun1604
berhasil mencapai Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda. Di Maluku, Inggris
mendapat persaingan dari Portugis dalam usaha mendapatkan rempah-rempah.
Inggris akhirnya melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Barat, Makasar, Jayakarta,
Jepara, aceh, Pariaman, dan Jambi.
BERKEMBANGNYA:
Raffles berkuasa dari tahun 1811-1814 setelah pada
tahun 1811, Inggris menyerang wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda di Jawa.
Hal ini berhasil membuat Belanda menyerah tanpa syarat dan memberikan wilayah
kekuasaan kepada pemerintah Inggris.
Kekuasaan Inggris di Indonesia diwakili oleh
Maskapai Hindia Timur (The East India Company) disingkat EIC yang berpusat di
Calcutta, India. EIC mendapat hak Oktrooi dari Ratu Elizabeth I. Saat Gubernur
Jenderal Lord Minto menjadi pemimpin EIC, dia mengangkat Thomas Stamford
Raffles sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda.
Selama Raffles berkuasa ia menerapkan berbagai
kebijakan diantaranya:
- Membagi wilayah Pulau Jawa menjadi 16 daerah Karisedenan. Tujuannya untuk mempermudah pengaturan dan pengawasan terhadap Pulau Jawa.
- Membentuk sistem pemerintahan dan pengadilan dengan merujuk kepada sistem di Inggris.
- Mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi kemakmuran Inggris dengan menerapkan sistem pemiliki atas tanah dan memberlakukan sewa tanah (Stelsel Tanah)
Karena tindakan-tindakan Raffles selama berkuasa
kurang memperhatikan kekuasaan pemerintah lokal maka dia mendapat pertentangan
dari para penguasa lokal di Indonesia.
Selama di Indonesia berhasil menulis buku yang
berjudul History of Java berisi sejarah budaya indonesia. Namanya
diabadikan sebagai nama bunga bangkai di Bengkulu “Rafflesia Arnoldi”
Kekuasaan Raffles berakhir pada 1814 setelah
terjadi Konvensi London antara Inggris dan Belanda. Isinya “Inggris harus
mengembalikan semua wilayah jajahan Belanda yang telah dikuasainya.
Inggris menyerahkan kekuasaan pada Belanda tahun
1816.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar